Kumpulan Puisi By Putri Ayu

October 18th, 2007 by cupidyunani

1# CINTA TAK PERLU ALASAN

Ya 4JJ…
berhakkah aq yang hina ini mencintaimu …?
Aq yang selalu mengkhianati cintamu berkali-kali

Pantaskah aq yang rendah ini dicintai olehmu …?
Aq yang selalu dengan mudahnya berpaling darimu setiap ada godaan….

Mengapa?
Apakah alasannya ya 4JJ…?

Mengapa kau begitu baik padaku…..?
Mengapa kau begitu sayang padaku….?

Aq sama sekali tidak pantas..
Sama sekali tidak pantas…..

Sungguh….
Aq malu padamu ya 4JJ…..
________________________________________________________________________

2# DI ATAS SAJADAH CINTA

Ketika dentingan dawai cintamu menyeruak masuk
bersama dengan aliran darah dan sukma ke dalam diri ini

Seketika itu juga symphoni hati mulai memainkan peranannya…..
Menggetarkan segenap ruang ke delapan penjuru langit jiwa ini

Aq tidak begitu paham kenapa atau bagaimana…
Yang aq tahu rasa ini begitu kuat mengalir ke setiap inci nadiku
Membelai seluruh tubuhku dengan lembutnya

Hangat..
Manis…
Indah…
Syahdu…

Perlahan …..
semua alasan, logika dan jati diri sudah tidak lagi penting
saat ini yang terpenting hanyalah rasa itu sendiri…

rasa ini terlalu kuat dan tak terbendung
tak tertahankan…
tubuh kecil ini tak mampu menampung semuanya…

akhirnya……
pertahanan itu pun runtuh, luluh lantak di hadapan cinta

isak tangis dan butiran air mata yang menetes menandai dasyatnya gejolak jiwa yang terjadi
seluruh tubuh ini tak bisa berhenti bergetar dengan hebatnya….
kedua kaki ini lemas, tak mampu lagi menopang beratnya beban jiwa yang ada….

seluruh tubuh ini, bahkan sampai tulang ini
merinding, menggigil, merintih….

aq ingin berteriak sekeras2nya….
aq ingin meledakkan semua rasa di dalam hati ini
tapi aq tak mampu
hanya isak tangis yang dapat kukeluarkan

kasih…
aq sangat rindu padamu,
aq membutuhkan belaian cintamu

kasih….
aq sangat sayang padamu,
aq membutuhkan dekapan hangatmu

kasih…
aq sadar….
walaupun tak mungkin…tapi…..
aq sangat ingin menyentuhmu
aq sangat ingin memelukmu seerat mungkin

mendekapmu…dan…..
merasakan kehangatanmu
dengan segenap jiwa dan raga ini

aq ingin menumpahkan semua rasa yang tak tertahankan ini

rasa ini terlalu tak terbayangkan
aq tak sanggup menanggungnya…
tapi aq juga tak ingin kehilangannya….

aq hanya ingin semakin dekat denganmu
aq hanya ingin rasa ini semakin kuat

cuma ada satu cara yang aq tahu…
yang bisa memenuhi semua hasrat itu

kupejamkan mata…

lalu……

kutundukkan kepala serendah bumi dan kutumpahkan semua air mata ini
diatas …..
sajadah cinta……….

_________________________________________________________________________

3# 10 THINGS I HATE ABOUT YOU

Aq benci saat kau memberi kehangatan dengan memeluk erat tubuhq dengan hangatnya mentari pagimu
saat aq bersikap dingin dan acuh padamu

Aq benci saat kau justru membelai q lembut dengan sejuknya desiran aliran angin dan air kehidupanmu
saat aq bersikap keras padamu

Aq benci saat kau justru semakin memperhatikan aq melalui orang2 di sekitarku
saat aq mulai bosan denganmu dan tak ingin lagi memperhatikanmu

Aq benci saat kau menciumq dengan lembut melalui kasih sayang ayah ibuku dan orang2 disekitarku 
saat aq justru mencaci makimu……

Aq benci saat kau justru semakin bertubi2 menghujaniku dengan pemberianmu……
saat aq sudah tak ingin lagi memberi apapun untukmu

Aq benci saat kau tak bosan2nya memaafkan kesalahanku
saat aq berulang2 melakukan kesalahan yang sama dan menyakiti perasaanmu

Aq benci saat kau justru terus menerus mengingatkan aq betapa kau sangat mencintaiku….
saat aq sudah melupakan cintaq padamu

Aq benci kenapa tubuh ini selalu gemetar saat menyadari betapa aq sangat membutuhkan belaian kasihmu,…
mengapa kaki ini selalu lemas saat menyadari betapa aq tak bisa lalui hari tanpa bisikan lembut cintamu,…

Aq benci mengapa hati ini selalu remuk saat menyadari betapa aq tak
bisa menolak keindahan putihnya sayap2 cintamu yang melindungi tubuhku
dari yang lain selain engkau

tapi…..
yang paling kubenci adalah….

Aq benci kenapa air mata ini selalu mengalir jatuh tak tertahankan saat
menyadari bahwa sesungguhnya aq tak pernah bisa membencimu sama sekali …

Sama sekali tidak bisa….
tidak sedikit pun….

Karena sesungguhnya….
Betapa diri ini….
Betapa jiwa ini….

SANGAT….
mencintaimu….

Ya 4JJ ….
I love u SO MUCH

_________________________________________________________________________

Cinta adalah lautan tak bertepi,
Laut hanyalah serpihan buih belaka.
Ketahuilah! Langit berputar karena gelombang Cinta.
Andai tak ada Cinta,
Dunia akan membeku.

Jalaludin Rumi

_________________________________________________________________________

4# CINTA UNTUK KU

SeuNtai katA yaNg terungkAp d4Ri JiWa.

SeuLas $enyum menebar p35ona

q alunkAn kata tapi tak bersuara

hanya lewat butir air mata keh4hangatan jiwa ini qu sampaikan sebuah kata …

Ya 4JJ ….
I love u so much

4 bout <3

October 9th, 2007 by cupidyunani

——————Girls————
———–are like apples———
——-on trees. The best ones—–
—–are at the top of the tree.—
—The boys dont want to reach—–
–for the good ones because they—
-r afraid of falling and getting hurt.-
-Instead, they get the rotten apples—
from the ground that arent as good,
but easy. So the apples up top think
something wrong w/ them when in
-reality they’re amazing. They just–
—have to wait for the right boy to
—- come along, the one who’s—–
———– brave enough to——-
—————climb all————–
—————the way—————-
————–to the top————–
————-of the tree.————-
You have been considered
One of the prettiest girls on my LiFe………

KUMPULAN PUISI

October 9th, 2007 by cupidyunani

SAHABAT

Teman..
Hidup itu sebuah perjalanan panjang
Detik demi detiknya
Bisa jadi rangkaian duri api
atau
Sungai kecil yang jernih dengan riak airnya
Terkadang..
Hidupmu terasa bagai neraka penuh derita
ya..
hidup itu perjuangan, kawan . .
kau butuh kerja keras untuk bertahan di dalamnya
kadang, kau rasa penat begitu pekat
tercekat, kehilangan asa, hilang cahaya..
begitu gelap,, sesak..
Serasa mau mati..
Namun..
hidup ini indah kawan..
Sgala yang terjadi dalam hidupmu
pasti ada tujuannya
Tuhan tahu yang terbaik bagimu
Smua yg diberikan-Nya adalah yg terbaik untukmu
Hadapilah smua dengan senyuman..
Berilah senyum terbaikmu untuk dunia
Cerahkan hati dan hari dengan senyummu..
Ceritakanlah smua keluh mu pada Tuhan… dan padaku..
Karena aku.. adalah temanmu
Ketika kau kehilangan lentera hidupmu..
datanglah padaku
karena kan kuberikan secercah cahayaku untukmu
walau itu hanya lilin kecil..
namun, ingin kuberbagi cahaya itu untukmu…….

*************************************************************************

10 Langkah Penghangat Cinta

October 7th, 2007 by cupidyunani

1. Mengungkapkan Cinta :

Jangan takut mengatakan cinta, kadang kita merasa bahwa hal tersebut tidak
penting dan gombal, kadang kita berdalih bahwa kata-kata cinta tidak penting
untuk diucapkan secara verbal tapi cukup dibuktikan dengan perbuatan. Tetapi
coba kita tengok bagaimana Rasulullah mengajarkan kepada para shahabatnya
ketika ada seseorang yang mengatakan kepada Rasul "Ya Nabiyullah,
sesungguhnya aku sangat mencintai si fulan" sambil menunjuk kepada seorang
lelaki yang sedang lewat dihadapannya. "Apakah kamu pernah mengatakan
perasaanmu kepadanya ?" Tanya Rasul. "Belum ya Rasul". Jawab shahabat.
"Sekarang, katakanlah padanya". Jadi mengatakan cinta itu bukan hal
yang
tabu, tapi sunnah hukumnya. Dan mulai sekarang, katakanlah cinta pada istri
tercinta.

   "I love u, I love u, I

love u "

2. Efek Sentuhan

Berjabat tangan ketika bertemu, memeluk atau mencium, adalah kiat2
penghangat cinta, jangan sampai satu haripun anda tidak menyentuhnya. Apakah
hanya sekedar mencubit, menjewer mesra, dan sebagainya. Menurut ahli
psikologi, efek sentuhan dapat memberi kenyamanan, kesenangan dan
ketentraman dan menciptakan rasa kedekatan antar
individu.

3. Memberi Bantuan 

Memberi bantuan kepadanya diminta atau tidak, ketika ia sibuk didapur, kita
yang memandikan anak. Ketika ia sedang menyuapi anak, kita ngelap meja. Kamu bunga yang jadi
tangkainya.. suit suiit�� kamu tarzan.. aku yang jadi ������

4. Siap Dengan Dukungan   

Memberi dukungan harus dilakukan, terutama jika istri kita mengalami tekanan
psikologis. Tetapi memberi dukungan juga harus proporsional, jangan sampai
berlebihan. Ini yang perlu diperhatikan. Dukungan moril sangat dibutuhkan
disaat2 tertentu. Misalnya istri sakit, jangan malah di takut2in "Mi’
tetangga diseberang sana sakitnya juga sama kayak umi��. Sekarang
dia udah pulang ke Rahmatulloh lho.."

5. Jangan Pelit Dengan Pujian   

Kalau ada suami yang pelit pujian, bisa dipastikan ia juga pelit dengan
hartanya, kalau pujian yang gratis aja pelit, gimana dengan harta yang
dicari dengan susah payah ? suami yang pemurah adalah suami yang senang
memuji. Memuji yang baik tidak dilakukan didepan khalayak ramai, tetapi
disaat berdua, misalnya memuji kecantikannya, enak
masakannya, dll.

6. Munculkan segala Kebaikan   

"Jika cinta sudah melekat, tempe goreng terasa coklat" begitu pepatah
mengatakan. Tanda cinta adalah kita senantiasa mengingat
kebaikan-kebaikannya, jika ada permasalah yang membuat renggang hubungan.
Segera ingat kebaikan yang pernah ia
lakukan kepada kita.

7. Sisihkan waktu Untuk
berdua
   

Kadang kesibukan membuat suami istri jarang punya waktu untuk mereka berdua,
maka perlu disiasati supaya punya waktu untuk berbicara dari hati kehati, tanpa ada yang mengganggu.
Just me and u �� cieee.

8. Membuat panggilan khusus   

Panggil namanya dengan nama nama yang ia senangi misalnya "Mawar",
"Darling", "Yayang", "My Love" jangan sebut nama
panggilan yang ia tidak
senangi "Ndut,.. sini ndut" (karena istrinya gendut) atau "Tuyul��
sini yul" (karena namanya
Yuli).

9. mendengarkan

menjadi pendengar yang baik perlu kiat tersendiri, kadang kala ada rasa
emosi, saat pulang kerja,lelah dan suntuk.. istri menyambut dengan cerita2
horor dan teror. Yah sabar sedikit, usahakan tersenyum. Dengarkan sampai ia
selesai bicara. Setelah ia selesai baru bilang "umi tadi certain apa sih
?"
(gubraks)

      

      
      
10. Lazimkan Tiga kata ajaib :

- Tolong : jika meminta bantuan
- Terima kasih : jika
selesai dibantu
- Maaf : jika membuat kesalahan

Wanita Bisu, Tuli, Buta dan Lumpuh Yang Engkau Cintai

October 7th, 2007 by cupidyunani

Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang
berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke
luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu
tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang
sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir
panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu.
Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan
miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud
hendak  menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah
terlanjur  dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka
langsung  saja ia berkata, "Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini.
Aku  berharap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik
kebun  ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan
mengurusi kebunnya".

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimana rumah pemiliknya?
Aku  akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan
ini."  Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana
maka  engkau harus
menempuh perjalanan sehari semalam".

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu.
Katanya  kepada orangtua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi
menemuinya,  meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal
bagiku  karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah
memperingatkan  kita lewat sabdanya : "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang
haram, maka ia  lebih layak menjadi umpan api
neraka."

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia
langsung  mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit
langsung  memberi salam dengan sopan, seraya berkata, "Wahai tuan yang
pemurah, saya  sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh
ke luar kebun  tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah
kumakan itu ?"  Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan
cermat. Lalu dia  berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya
kecuali dengan  satu syarat." Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena
takut ia tidak  bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu
tuan?" Orang itu  menjawab, "Engkau harus mengawini putriku !"

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka
dia  berkata, "Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh
ke  luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?" Tetapi pemilik kebun
itu  tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya,
"Sebelum  pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan
putriku itu.  Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga
seorang gadis  yang lumpuh !"

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir
dalam  hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai
isteri  gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan
kepadanya?  Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku
tidak  bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !"

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima
pinangannya  dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi
dengan Allah  Rabbul ‘Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban
dan  hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku
dan  mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi
Allah  Ta’ala". Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu
menghadirkan dua  saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah
perkawinan usai,  Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit
hendak masuk  kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam
walaupun istrinya  tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang
berkeliaran dalam  rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun
mengucapkan salam,  "Assalamu’alaikum�."

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi
menjadi  istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk
hendak  menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut
tangannya.  Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi
istrinya itu  menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Kata ayahnya dia
wanita  tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik.
Jika  demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan
tidak  bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata
dia  menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan
mesra  pula", kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa
ayahnya  menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan
yang  sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, "Ayahmu
mengatakan  kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?" Wanita itu kemudian
berkata, "Ayahku  benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang
diharamkan Allah".  Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau
tuli. Mengapa?"  Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah
mau mendengar  berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku
juga  mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?" tanya wanita
itu  kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk
perlahan  mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata,
"aku  dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku
untuk  menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena
kakiku  tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran
Allah  Ta’ala".

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan
wanita  yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami
dengan  baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, "Ketika
kulihat  wajahnya��Subhanallah,
dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap".

  Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu
hidup  rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang
putra  yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu
Hanifah  An Nu’man bin
Tsabit.

Menjadi Kekasih Allah

October 7th, 2007 by cupidyunani

Sebuah Keniscayaan

Bicara tentang kekasih, identik dengan berbicara tentang cinta. Sesuatu yang dicintai dan dikasihi, dimakhlumi sebagai kekasih. Nabiyullah Ibrahim mendapat julukan Kholilullah (Kekasih
Allah), artinya beliau mendapatkan cinta dan kasih sayang-Nya. Cinta
yang hakiki-murni-sejati adalah cinta pada Dia, Dzat Maha Suci yang
secara realitas telah memberi segala yang kita rasakan sekarang. Cinta
hakiki adalah cinta pada dzat yang mencintai kita.

Betapa tidak, hanya dialah yang memberikan segalanya
pada kita. Tengok saja segala yang kita miliki, semuanya berasal dari
Allah SWT. Semua yang kita gunakan adalah milik-Nya, lalu atas dasar
kasih-Nya Dia mengijinkan kita untuk menggunakan semua itu. Hakekatnya,
badan, tanah, rumah, kendaraan, kekayaan, jabatan dan segala hal yang
kita gunakan bukanlah milik hakiki kita. Itu adalah milik Allah SWT
yang atas cinta-Nya dibolehkan untuk kita gunakan sehingga menjadi
�milik’ kita didunia. Bukti konkret bahwa semua itu bukan milik hakiki
kita, hanya �milik’ sementara saja, adalah ketika siapapun meninggal
maka semua itu tidak dibawanya. Badan hancur lebur dimakan bakteri;
tanah, rumah, kendaraan, dan kekayaan tidak ikut dikubur, semuanya
diwariskan. Jabatan juga hanya tinggal sebutan. Satu-satunya jabatan
yang melekat adalah : MAYAT

Semua yang kita punya berasal dari Allah SWT. Saya
percaya, anda pernah berpikir mengapa anda dapat membaca buku ini ?
sebab, anda punya energi yang diolah dari makanan beserta indera yang
dimiliki. Padahal, proses terbentuknya energi dari makanan itu melalui
suatu proses metabolisme yang canggih. Siapakah yang menjadikan proses
metabolisme sejak lahir dalam diri kita ? kitakah? Bukan! Allah SWT.
Dengan penuh cinta memberikannya kepada kita sejak bayi. Tanpa
metabolisme, kita tak berdaya apa-apa. Organ tubuh kita dengan
fungsinya masing-masing, kitakah yang membuatnya? Tentu, bukan! Allah
SWT. Menciptakannya untuk kita gunakan. Kita makan nasi, siapakah yang
membuat padinya? Petani ? kita, tentu, akan mengatakan : �bukan, petani
hanyalah menanam�. Allah SWT. Memang sengaja menciptakan padi untuk
kita makan. Dia telah berjanji memberi rizki pada setiap makhluknya.
Pakaian yang kita kenakan berasal dari benang, dan benang berasal dari
kapas, siapakah yang menjadikan pohon kapas? Bukan siapapun melainkan
Allah SWT. Setiap apapun yang kita gunakan, terang sekali ciptakan
Allah SWT. Tak ada sesuatu apapun yang kita miliki dan gunakan kecuali
berasal dari Allah Dzat Maha Sayang. Kita tak punya daya dan upaya
tanpa Allah SWT, la hawla wa la quwwata illa billah . Semua itu merupakan wujud sifat kasih sayang Allah SWT ( Ar rahman ) yang dia berikan kepada kita.

Realitas menunujukkan tidak ada siapapun yang
mencintai kita memberi segala yang kita punyai dan kita butuhkan selain
Allah Pencipta kita. Kecintaan Allah SWT. Nampak begitu nyata. Bila
demikian, maka sangat rasional bila saya, anda, dan siapapun ingin
menjadi kekasih-Nya. Ingin menumpahkan cinta kita kepada-Nya. Kehendak
menjadi kekasih Allah SWT. Dan mencurahkan kecintaan kepada-Nya sungguh
merupakan keniscayaan bagi mereka yang menyadari sebagai hamba Allah
Dzat Maha Pemberi.

Wujud Nyata

Wujud cinta tersebut umumnya teraplikasi setidaknya dalam tiga bentuk. Pertama, lebih mementingkan perintah kekasihnya dari pada perintah yang lain; kedua, lebih mementingkan pertemuan dengan kekasihnya dibanding dengan yang lain; dan ketiga, lebih
mementingkan mendapat keridhoan kekasihnya dari pada mendapatkan
keridhoan yang lainnya. Karenanya, untuk mengecek apakah kita sudah
menjadikan Allah SWT sebagai kekasih sejati atau belum mestinya kita
mengecek sudahkah kita selalu taat pada perintah-Nya ? sudahkah selalu
ingin bertemu dengan-Nya dalam peribadatan? Sudahkah mengharapkan
keridhoan hanya dari-Nya? Kepada hukum Allah ataukah hukum thaghut? Jika
jawabannya belum, maka tidak salah bila saat ini nurani anda bergumam:
�hipokrit engkau wahai jiwaku!� sekalipun demikian, sampai sekarangpun
belum terlambat untuk menjadikan-Nya al-Mahbub (yang dicintai). Yakinlah, kita dapat menjadi kekasih-Nya hingga nama kita senantiasa disebut-sebut di kalangan para malaikat.

Satu hal yang penting dicatat, tidak mungkin Allah
SWT menyayangi dan mengasihi kita dalam keridhoan-Nya bila kita sendiri
tidak mencintai-Nya. Inilah kiat pertama yang mutlak dilakukan:�
Jadikanlah Allah sebagai kekasih kita, niscaya kita akan menjadi
kekasih-Nya�. Katakanlah:�Jika kalian (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa
kalian.� Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
. Begitu firman Allah SWT dalam surat Ali �Imron [3] ayat 31.

Seorang muslim, apalagi pengemban dakwah, sudah
sepatutnyalah menjadikan cinta tertingginya untuk Allah SWT. Karena dia
adalah penyebar ajaran-ajaran-Nya. Dengan demikian ia akan menjadi uswah dan qudwah bagi
masyarakat obyek dakwahnya. Sulit dibayangkan seseorang mengajak orang
lain untuk mencintai Allah SWT bila dia yang mengajaknya tidak
menjadikan Allah SWT sebagai kekasihnya. Jadi, keimanan dan tanggung
jawab ini akan mendorong setiap mukmin pengemban dakwah terus berusaha
untuk mencintai sekaligus dicintai oleh Allah. Demikian pula muslim
pada umumnya.

Langkah Menjadi Kekasih-Nya

Siapapun yang men- tadabburi kalamullah, akan menemukan beberapa sifat yang harus dimiliki agar menjadi hamba yang dicintai Khaliq- nya. Beberapa karakteristik tersebut diantaranya :

1. Beriman

Adanya iman pada seseorang, merupakan syarat mutlak
bagi hamba yang berhasrat dicintai Allah. Tanpa ini, jangan harap ada
cinta dari-Nya. pada ayat 18 al-Fath, yang memberikan gambaran baiatur Ridwan, Allah
menjelaskan hal tersebut. Seorang mukmin, terlebih-lebih para pengemban
dakwah betul-betul memiliki keimanan yang mantap disertai dengan
pembuktiannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia senantiasa bergetar
hatinya apabila disebut nama Allah (artinya disebut ayat-ayat Allah)
sebagai lambang kerinduan kepada-Nya, bahkan iapun berusaha selalu
memahami ayat-ayat Allah dengan mendalam sehingga keimanannya makin
bertambah setiap dibacakan ayat-ayat-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT
:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman (orang
yang sempurna imannya) itu adalah mereka yang apabila disebut nama
Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada
Tuhan-lah mereka bertawakkal.� (
Qs. Al-Anfaal [8]:2 )

penampakan keimanan yang lainnya, ia senantiasa khusyu’ dalam sholatnya. Sebagaimana firman Allah SWT:

(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.� ( Qs. Al-Mukminuun[23] : 2 )

saat melakukan sholat, pikirannya tertuju pada makna
bacaan, lidahnya membaca dan hatinya menghayati apa yang dibacanya itu.
Ia dapat khusyu’ seperti ini karena betul-betul meyakini akan
pertemuannya dengan Allah dan ia pun yakin bahwa ia pasti akan kembali
dan bertemu dengan-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT :

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.� ( Qs. Al-Baqarah [2] : 46 )

Keimanan yang seperti ini akan juga membuahkan
amal-amal yang menjauhkan diri dari perkataan yang tidak berguna.
Sebagaimana firman Allah SWT:

Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.� ( Qs. Al-Mukminuun[23]:3 )

Demikian pula ia mengeluarkan zakat, menjaga arji- nya
dari berzina, selalu memegang teguh dan menyampaikan amanat, menepati
janji, dan selalu menjaga sholatnya agar tidak terbengkalai.
Sebagaimana firman Allah SWT :

�Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan
orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri
mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam
hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang dibalik itu maka
mereka itulah orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang
dipikulnya) dan janjinya. Dan sembahyangnya.�(
Qs. Al-Mukminun [23]:4-9 )

Dalam kitab Nashooihul �Ibad, Ibnu Hajar al-Atsqolani mengutip sebuah hadist Rasulullah SAW yang berkaitan dengan tanda-tanda keimanan :

�Suatu hari Rasulullah berjumpa dengan beberapa
sahabat, beliau bertanya: �Apa kabar kalian pagi ini?’ mereka menjawab:
�kami tetap beriman kepada Allah.’ Apa tanda iman kalian?’ tanyanya,
mereka pun menjawab: �kami tabah menghadapi cobaan, bersyukur atas
kehidupan yang enak dan kami ridho kepada ketentuan Allah SWT.’
Mendengar jawaban itu beliau bersabda: �Demi Rabb penguasa ka’bah,
kalian benar-benar beriman.�

2. Bertaqwa

Allah SWT berfirman :

(Bukan demikian) sebenarnya siapa yang
menepati janji (yang dibuatnya) dan bertaqwa maka sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertaqwa.� (
Qs. Ali Imron [3] :76 )

�Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi
Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrik, kecuali orang-orang
yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil
Haram (perjanjian Hudaibiyah) ? maka selama mereka berlaku lurus
terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.� (
Qs. At-Taubah [9]:7 )

Para ulama mendefinisikan taqwa sebagai melaksanakan
seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian,
seorang pengemban dakwah akan senantiasa memaksa dan memacu dirinya
untuk terikat dengan seluruh aturan Allah SWT (syariat Islam) dalam
setiap keadaan apapun. Sebagaimana sabda Rasul SAW:

�Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada.� ( HR. Tirmidzi )

taqwa tidak melekat begitu saja pada seseorang. Ia
lebih merupakan suatu hasil kerja terus menerus dengan amal Islami.
Karenanya, taqwa perlu dibina, disuburkan dan diistiqamahkan. Kehidupan
duniawi laksana seseorang yang mengendarai kuda. Bila lalai mengatur
kendalinya, tak tahu kuda lari kemana dan kita bernasib bagaimana. Yang
jelas kita akan tersesat dalam kondisi sesesat-sesatnya. Dalam hidup di
dunia, taqwa itulah kendalinya.

Sayidina Utsman bin Affan ra pernah mengungkap lima hal penting sebagai wujud taqwa pada seseorang yaitu : suka
bergaul dengan orang yang baik dalam agamanya serta dapat mengekang
nafsu syahwat dan lisannya; bila ditimpah musibah keduniaan yang besar
dia menganggapnya sebagai ujian; bila ditimpah urusan kecil mengenai
keagamaan dia merasa untung karenanya; tidak menjejali perutnya
walaupun dengan makanan yang halal karena takut tercampur dengan barang
haram; dan pada pandangannya orang lain sudah berhasil membersihkan
dirinya sedangkan dirinya merasa masih kotor.�

3. Berbuat Ihsan

Al Fadhil Ibn �Iyadh berkata : �Sesungguhnya
sesuatu perbuatan apabila benar tetapi tidak ikhlas maka amal itu tidak
diterima. Demikian pula apabila dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak
benar (showab) maka amal itupun tidak diterima, jadi harus ikhlas dan
benar. Ikhlas artinya hanya karena Allah, dan benar artinya sesuai
dengan sunnah Rasul Allah SAW.

Dengan demikian dengan dua syarat tadi mudahlah mengukur amal kita, termasuk amal yang ihsan (baik) atau tidak

Berkaitan dengan seruan berbuat baik, Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya :

�Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan
Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah SWT menyukai
orang-orang yang berbuat baik.� (
Qs. Al-Baqarah [2]: 195 )

�Menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.� ( Qs. Ali Imron [3] : 134 )

Selain itu, disaat melakukan suatu perbuatan
tujuannya harus betul-betul dalam rangka beribadah kepada Allah SWT;
dengan seakan-akan kita melihat-Nya dan apabila kita tidak dapat
melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihat kita. Inilah definisi ihsan dalam
beribadah menurut Rasul SAW yang tercantum dalam sebuah hadist riwayat
Imam Muslim. Apabila kita sudah bersikap seperti ini (ihsan) niscaya
dalam setiap melakukan perbuatan akan selalu ikhlas dan benar.

Banyak sekali amal kebaikan yang dapat dilakukan,
baik yang berhubungan dengan Allah seperti sholat, membaca Al qur’an,
shaum, berhubungan dengan diri sendiri seperti berakhlakul karimah,
berpakaian rapi, menjaga diri dari makanan haram, ataupun berhubungan
dengan sesama manusia dalam bermuamalah dan uqubat.

Jangan sekali-kali menganggap remeh suatu amal
kebaikan. Sekecil apapun lakukanlah perbuatan baik tersebut,
tinggalkanlah perbuatan dosa. Ingat pula, jangan menunda-nunda amal !
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata: � jika engkau
di waktu sore janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu
pagi janganlah engkau menunggu sore. Pergunakanlah sehatmu untuk
beramal sebelum sakit, dan pergunakanlah hidupmu sebelum mati.�

Sementar itu, Khalifah Ali Karamaallahu Wajhah berpesan ; � jadilah
kamu sebaik-baik manusia disisi Allah dan anggaplah kamu sejelek-jelek
manusia menurut dirimu sendiri dan jadilah kamu orang yang berguna di
Masyarakat.�

4. Selalu Sabar

Seperti halnya dalam kehidupan yang lain, dalam
medan da’wah pun tidak luput dari tantangan, ancaman, hambatan, dan
gangguan. Semua itu pada hakekatnya merupakan ujian. Maka sabar
merupakan pakaian para pengemban dakwah dimanapun berada dan kondisi
apapun yang tengah dihadapinya. Sabar tidaklah harus berarti berdiam
diri melainkan harus berusaha juga sekuat tenaga untuk menghadapinya.
Mereka yang tidak sabar termasuk orang yang merugi, ia akan cepat
frustasi, marah-marah, stress, bahkan bisa jadi menyalahkan Allah SWT. Naudzu billahi min dzalik. Sabar bukanlah paket yang disediakan secara Inheren dalam
penciptaan manusia. Sabar hanya akan ada pada mereka yang
mengupayakannya. Anda dapat sabar ataukah tidak, terserah pilihan anda.
Begitu pula saya atau dia. Bagi kita yang hendak menanam kesabaran diri
ada beberapa pengalaman yang dapat dijadikan cermin untuk meraihnya
upaya tersebut antara lain :

Pertama, pahamilah bahwa hidup ini adalah
ujian. Sesungguhnya Allah SWT menciptakan hidup dan mati itu merupakan
ujian bagi seluruh hamba-Nya (Al-Muluk:2). Berbagai bentuk ujian akan
senantiasa mengiringi kehidupan seorang muslim. Apakah itu berupa
ketakutan, rasa lapar, dan kekurangan harta (Al-Baqarah:155) namun ada
juga berupa perkara yang baik-baik (Al-Anfal:17). Ujian akan berakhir
dengan tibanya ajal. Siapa yang siap hidup harus siap menghadapi ujian.

Kedua, sadarilah bahwa seluruh ujian yang
ada, sekaligus sebagai pengecek kekuatan iman seseorang (Al-Ankabut:2).
Semakin kuat keimanan seseorang maka semakin banyak dan berat juga
ujian hidup yang akan dialaminya. Justru, bagi seorang muslim yang
mengaku beriman tetapi belum pernah diuji, mestinya bertanya pada
dirinya sudah sejauh manakah kadar keimanannya. Ada seorang teman
pernah ketakutan, �saya mah justru tidak akan tebal iman dan banyak
taat, sebab nanti akan banyak ujian. Saya takut tidak tahan, saya tidak
akan sabar menghadapi ujian, apalagi makin tinggi iman maka ujian pun
semakin sulit,� ungkapnya kepada saya. Saat itu saya tidak banyak
memberikan komentar. Saya hanya bercerita kepadanya. Dulu, ada orang
yang mengatakan kepada saya saat masih SD bahwa ujian di SMP itu sulit.
Kesulitannya jauh dibandingkan dengan ujian SD, demikian pula ujian
SMU. Wah, sulit sekali, tambahnya, kesulitannya tidak bisa dibayangkan
oleh tingkatan SD. Apalagi di Perguruan tinggi. �Wah, apalagi pada
waktu sidang skripsi. Susah bukan main. Mana dosennya sering kali sulit
ditemui, lagi�. Dan, kelak bila melanjutkan S2 lebih sulit Lagi.
Bagaimana sikap anda terhadap cerita ini ? saya percaya, kita tidak
akan menyimpulkan:�Wah, dari pada mendapat ujian sulit lebih baik
sekolah cukup sampai SD saja. Tidak perlu SMP, apalagi SMU atau
sarjana.� Benar, makin tinggi tngkat pendidikan, makin sukar ujian.
Tapi, buktinya, toh tetap juga dapat dilalui dengan baik. Persoalan
ujian yang berkolerasi erat dengan keimanan pun demikian. Semakin
tinggi keimanan seseorang, akan semakin deras ujiannya, dan yakinlah,
dia akan semakin memiliki kemampuan dan kesabaran untuk mengunggulinya
seiring dengan meningginya keimanan dan ketaatan.

Ketiga, sabar itu merupakan salah satu
tanda keberhasilan (Al-Imron:200). Betapa banyak kaum terdahulu yang
terbinasa karena ketidak sabarannya. Orang yang tidak sabar akan suatu
perkara sebenarnya telah kehilangan kesempatan untuk mengungguli
perkara tersebut.

Keempat, sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang sabar (Al-Imron:146)

Memang kesabaran bukanlah perkara yang mudah. Sebab,
kesabaran memerlukan ketulusan dan kesungguhan tingkat tinggi. Agar
berhasil memilikinya, biasakanlah dan perbanyaklah do’a: artinya � Ya Rabb kami, curahkanlah kesabaran kepada kami, dan matikanlah kami dalam keadaan muslim.� ( Qs. AL-A’raf:222 )

5. Tawakkal

Satu ciri lain orang yang dicintai Allah SWT adalah
orang yang tawakkal. Kaum mukminin di perintahkan untuk menyerahkan
segala urusannya (tawakkal) hanya kepada Allah SWT (Ali-Imron:122;
Al-Maidah:11). Sebelum melakukan segala sesuatu, kita harus menyerahkan
segala macam urusan kita kepada Allah SWT. Jadi bukan berusaha lalu
bertawakkal kepada Allah SWT dalam setiap urusan jauh-jauh sebelumnya
baru berusaha menghadapi sekuat tenaga

6. Mencintai Allah SWT

Agar kita dicintai Allah SWT, kita harus
mencintai-Nya. Wujud cinta kepada Allah adalah cinta kepada sesama
muslim dan keras kepada orang kafir (bukan sebaliknya), siap berjihad,
dan tidak takut terhadap selaan orang yang mencela. Demikian disebutkan
dalam surat Al-Maidah ayat 54. mencintai Allah SWT dilakukan dengan
cara mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW dalam segala peri
kehidupannya (Ali-Imron:31). Lembut terhadap sesama muslim dilakukan
dengan cara mencintai mereka sebagaimana mencintai diri kita sendiri,
tidak menyakitinya, tidak mendzaliminya, tidak mengganggu hartanya dan
memelihara kehormatannya, sedangkan keras terhadap orang kafir,
terutama dalam hal-hal yang menyangkut hukum islam. Tidak ada toleransi
dalam beragama, yang ada kerukunan antar umat umat beragama dibawah
nauangan kehidupan Islam, dimana Islamlah yang berkuasa dibumi ini.
Adapun jihad merupakan perang untuk meninggikan kalimat Allah SWT.
Seorang pengemban dakwah harus merelakan dirinya untuk mati fi sabilillah karena
diri orang mukmin telah dibeli oleh Allah SWT (At-Taubah:111). Demikian
pula sang istri harus ridho melepas suami dan anak-anaknya kemedan
pertempuran demi tegaknya dinul Islam saat kaum imperalis menggunakan
senjata untuk memporakporandakan Islam, umat dan negeri-negerinya.
Selain itu, Pengemban da’wah harus tahan terhadap celaan yang
dilontarkan kepadanya karena celaan itu sebenarnya muncul dari
orang-orang yang tidak suka kepada Islam

7. Bertaubat, membersihkan diri dan jiwa

Taubat harus menjadikan kebiasaan sehari-hari
(At-Taubah:112) suatu kebahagiaan bila kita terbiasa taubat seperti
terbiasanya sarapan. Taubat pun bukan hanya sesaat melainkan harus
dilakukan dengan benar-benar sehingga menjadi taubatan nasuha (At-Tahrim:8). Setidaknya, agar terwujud taubatan nasuha, seorang
Muslim harus menyesali perbuatan dosanya, memohon ampunan kepada Allah
SWT dan berniat sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya. Hujjatul
Islam, Imam Al-Ghazali, dalam Minhajul �Abidin menjelaskan bahwa pembersihan dosa seseorang, tergantung kepada jenis dosa tersebut. Pertama, bila
kesalahan tersebut karena kelalaian atas kewajiban dari Allah SWT, maka
ia harus beristighfar dan berusaha mengqada segala kelalaiannya itu. Kedua, bila
dosa itu terhadap sesama manusia, maka ia harus berusaha sekuat tenaga
untuk meminta kemanfaatan dan keridhaan orang tersebut. Ketiga, bila
dosa tersebut karena kedzaliman diri sendiri (tidak berhubungan dengan
orang lain) maka ia harus memperbanyak amal shalih agar kelak, amalan
buruknya akan terkalahkan banyaknya oleh amal shalehnya.

Rasulullah yang ma’sum, tidak kurang dari
tujuh puluh kali sehari bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Bagaimana dengan kita yang penuh dosa dan tidak dilindungi dari
kesalahan ?

Renungan

Itulah beberapa hal yang dapat membimbing kita untuk
menjadi kekasih Allah SWT. Siapapun yang telah mencurahkan cintanya
kepada Allah SWT dan berhasil menjadi kekasih-Nya, niscaya hasilnya
akan kembali kepada dirinya sendiri. Ini adalah janji Allah SWT yang
disampaikan oleh Nabi SAW.

Suatu waktu Rasulullah SAW bersabda bahwasannya Allah Ta’ala berfirman :� Barangsiapa
yang memusuhi kekasih-Ku maka aku menyatakan perang kepadanya. Sesuatu
yang paling kusukai dari apa yang dikerjakan oleh hamba-Ku untuk
mendekatkan diri kepada-Ku adalah bila ia mengerjakan oleh apa yang
telah Kuwajibkan kepadanya. Seseorang itu akan senantiasa mendekatkan
diri kepada-Ku dengan mengerjakan kesunatan-kesunatan sehingga Aku
mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku merupakan pendengaran
yang ia pergunakan untuk mendengarnya, Aku merupakan penglihatan yang
ia pergunakan untuk melihatnya, Aku merupakan tangan yang ia pergunakan
untuk menyerangnya, dan Aku merupakan kaki yang ia pergunakan `untuk
berjalan. Seandainya ia bermohon kepada-Ku pasti Aku akan
mengabulkannya dan seandainya ia berlindung diri kepada-ku paasti aku
akan melindunginya.� (
HR.Bkuhari )

Semoga kita diberi kemudahan untuk menjadi kekasih Allah Pencipta Alam

AIR MATA & CINTA

October 7th, 2007 by cupidyunani

Katanya nih, cinta bikin apa yg dicintai itu
bener-bener masuk ke lubuk hati. Bicara lubuk hati, apalagi yg
terdalam, pasti berkaitan banget ama yg namanya kelembutan. Hati tuh
lembuuuttt banget. Kalo dah kayak gini nich, cinta itu deket ama yang
namanya air mata, nangis dech… Makanya, orang yg lagi jatuh cinta,
bakal gampang nangis kalo inget ama yg dicintainye, ya kagak? Ngaku
dech!

Ngomong-ngomong soal nangis nich, A’a BOY   punya cerita. Cerita ini cerita jadul. Ada 2 cerita.

Cerita
pertama. Dulu, ada negeri kafir yg mo nyerang negeri Islam. Ketua kafir
itu atur siasat. Sebelum nyerang, diselidiki dulu negeri Islam itu. So,
si ketua ngutus seorang mata-mata ke negeri Islam itu. Si mata-mata
tadi nyamar jadi orang Islam. Trus dia masuk ke negeri Islam itu.
Tampangnya pokoke Islam banget dah, pake janggut segala kali! Tiba-tiba
dia ngeliat ada seorang anak muda yg lagi nangis di pojokan dinding.
Penasaran, si mata-mata tadi ngedeketin tuh anak muda. Trus dia nanya :
" Kenapa kamu nangis?" Jawab anak muda tadi : "Aku nangis karena tadi
aku ketinggalan shalat berjama’ah di masjid." Kagetlah si mata-mata.
Trus dia balik ke negerinya dan laporan ke ketua. Dia nyeritain apa yg
diliatnya di negeri Islam. Trus kata ketua : "OK, kita jangan nyerang
Islam dulu. Tunggu kalo saatnya dah tepat."

Cerita
kedua. Sebetulnya ini lanjutan dari cerita pertama tadi. Beberapa tahun
kemudian, diutus lagi dech mata-mata. Then, si mata-mata nyamar jadi
orang Islam. Pokoknya kayak cerita pertama. Trus dia ngeliat ada anak
muda yg nangis lagi duduk. Si mata-mata ngedatengin tuh anak trus nanya
: "Kenapa kamu nangis?" Jawab si anak muda : " Aku nangis karena baru
aja ditinggal ama kekasihku?" Ngedenger jawaban kayak gini, si
mata-mata balik ke negerinya. Dia lapor ke ketua tentang apa yg
diliatnya di negeri Islam. Trus, sang ketua berkata : "OK, saatnya kita
serang mereka!"

Bener, negeri kafir kemudian
nyerang negeri Islam tadi . Dan apa yg terjadi, soddara-soddara? Maka,
hancur-lebur dan luluh-lantaklah negeri Islam itu. Masya Allah…

Kenapa
hayo koq bisa kayak gitu? Ketua kafir tadi ngeliat kalo yg pertama,
pemuda-pemuda Islam-nya sholeh-sholeh. Mereka cinta benget ama Allah.
Sampe-sampe mereka sedih & nangis gara-gara ketinggalan shalat
berjama’ah di masjid. So, kalo negeri kafir nyerang saat itu, pasti
orang kafir kalah.

Trus, setelah beberapa tahun,
ada yg berubah di negeri Islam itu. Anak-anak mudanya dah ga sholeh
lagi (atw mungkin kurang sholeh kali ya…). Ini bisa diliat ada anak
muda Islam yg nangis gara-gara ditinggal pacarnya. Pasti, hari-harinya dihabisin bwt kekasihnya, bwt   nemenin, bwt mikirin, en bwt-bwt yg laen.
Knapa waktunya kagak dihabisin bwt Allah & Islam yak? Ini pertanda
kalo negeri Islam tadi dah lemah. Ini dia saatnya buat nyerang. 

Gitu,
Pren. Generasi yg pertama nangis ngeluarin air mata (ya iyalah, masak
ngeluarin ingus) gara-gara cinta ama Allah. Generasi yg kedua nangis
ngeluarin air mata (air mata buaya bukan ya?) gara-gara cinta ama
pacarnya.

Nah, Pren, air mata kita termasuk yg
mana nich? Kalo kita nangis gara-gara siapa hayo?? Yg jelas bukan
gara-gara A’a BOY! Hwehehe.. Moga2 air mata & nangis kita hanya
karena Allah! (a2i)

                        

TAHUKAH KAMU?

            

KECEPATAN CAHAYA

          

"…Sesungguhnya sehari di sisi   Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." [Q.S. Al   Hajj : 47]

          

Satu
hari seperti 1000 tahun. Dgn menggunakan hitungan ini, kita dapat
merumuskan bahwa rumus kecepatan cahaya itu c=3×100.000. Al Quran keren
kan?

Penghancur Persahabatan

October 7th, 2007 by cupidyunani

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan,
  tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan,
  tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh
  bersama karenanya.

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang
  panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan
  sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka,
  dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan,
  dibantu - ditolak,
  namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari
  perselisihan,
  justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan
  apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari
  kesetiaan,
  tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita
  memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataan kasih dari
  orang lain,
  tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan
  mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak
  ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati,
  namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.

Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan,
  namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Beberapa hal seringkali menjadi penghancur persahabatan antara
  lain:

  1. Masalah bisnis UUD (Ujung-Ujungnya Duit)
  2. Ketidakterbukaan
  3. Kehilangan kepercayaan
  4. Perubahan perasaan antar lawan jenis
  5. Ketidaksetiaan.

Tetapi penghancur persahabatan ini telah berhasil dipatahkan oleh
  sahabat-sahabat yang teruji kesejatian motivasinya. Mempunyai satu sahabat
  sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri.

"Dalam masa kejayaan, teman� mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita
  mengenal teman� kita."

Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan.
  Siapa yang berada di samping anda?
Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai?
Siapa yang ingin bersama anda pada saat tiada satu pun yang dapat anda berikan?

Merekalah sahabat� anda. Hargai dan peliharalah
  selalu persahabatan anda dengan mereka.

Agar Cinta Bersemi Indah

October 7th, 2007 by cupidyunani

Menerima pendamping kita apa adanya dengan tidak berharap terlalu banyak, 
  merupakan bekal untuk mencapai kemesraan dalam rumah tangga dan kebahagiaan
   
  di akhirat.

Sebagai hamba yang dianugerahi fitrah, kita memang perlu menyeimbangkan 
  harapan. Tak salah kita berdoa memohon suami yang sempurna, tetapi pada 
  saat yang sama kita juga harus melapangkan dada untuk menerima kekurangan. 
  Kita boleh memancangkan harapan, tapi kita juga perlu bertanya apa yang 
  sudah kita persiapkan agar layak mendampingi pasangan idaman.

Ini bukan berarti kita tidak boleh mempunyai keinginan untuk memperbaiki 
  kehidupan kita, rumah tangga kita, serta pasangan kita. Akan tetapi, 
  semakin besar harapan kita dalam pernikahan semakin sulit kita mencapai 
  kebahagiaan dan kemesraan. Sebaliknya, semakin tinggi komitmen pernikahan 
  kita (marital commitment) akan semakin lebar jalan yang terbentang untuk 
  memperoleh kebahagian dan kepuasan.

Apa bedanya harapan dan komitmen? Apa pula pengaruhnya terhadap keutuhan 
  rumah tangga kita? Harapan terhadap perkawinan menunjukkan apa yang ingin 
  kita dapatkan dalam perkawinan. Bila kita memiliki harapan perkawinan yang 
  sangat besar, sulit bagi kita untuk menerima pasangan apa adanya. Kita akan
   
  selalu melihat dia penuh kekurangan. Jika kita menikah karena terpesona 
  oleh kecantikannya, kita akan segera kehilangan kemesraan sehingga tidak 
  bisa berlemah lembut begitu istri kita sudah tidak memikat lagi. Betapa 
  cepat dan berlalu dan betapa besar nestapa yang harus ditanggung.

Sementara itu, komitmen perkawinan lebih menunjukkan rumah tangga seperti 
  apa yang ingin kita bangun. Kerelaan untuk menerima kekurangan, termasuk 
  mengikhlaskan hati menerima kekurangannya membuat kita lebih mudah 
  mensyukuri perkawinan.

Disebabkan oleh komitmen yang sangat kuat pada Allah dan Rasul-Nya istri 
  Julaibib mengikhlaskan hati untuk menikah dengan Julaibib. Yang baru 
  semalam usia pernikahan mereka Julaibib mengakhiri hayat di medan syahid. 
  Ketika ibunya merasa tidak rela dikarenakan rendahnya rendahnya martabat 
  dan buruknya perawakan fisik, ia meminta agar orang tuanya menerima 
  pinangan itu kalau memang Rasulullah saw. yang menentukan.

Orang yang melapangkan hati untuk menenggang perbedaan, cenderung akan 
  menemukan banyak kesamaan. Perbedaan itu bukan lantas tidak ada, tetapi 
  kesediaan untuk menenggang perbedaan membuat kita mudah untuk melihat 
  kesamaan dan kebaikannya. Sebaliknya, kita akan merasa tidak nyaman 
  berhubungan dengan orang lain, tidak terkecuali pendamping hidup kita, bila
   
  kita sibuk mempersoalkan perbedaan. Apalagi jika kita sering 
  menyebut-nyebutnya, semakin terasa perbedaan itu dan semakin tidak nyaman 
  membina hubungan dengannya.

Semoga Allah melindungi kita dari mempersoalkan perbedaan tanpa mengilmui.
   
  Semoga Allah menjauhkan kita dari kesibukan yang membinasakan. Semoga Allah
   
  pula kelak mengukuhkan ikatan perasaan di antara kita dengan kasih sayang, 
  ketulusan, dan kerelaan menenggang perbedaan. Sesungguhnya telah berlalu 
  umat-umat sebelum kita yang mereka binasa karena sibuk mempersoalkan 
  perbedaan dan memperdebatkan hal-hal yang menjadi rahasia Allah.

Nah, jika mempersoalkan perbedaan, menyebut-nyebutnya, dan mengeluhkannya 
  akan membuat hubungan renggang, mengapa tidak melapangkan hati untuk 
  menenggangnya? Sesungguhnya menenggang perbedaan akan menumbuhkan kasih 
  sayang dan kemesraan yang hangat. Ada perasaan mengharukan yang sekaligus 
  membahagiakan jika kita memberikan untuknya apa yang ia sukai.

Untuk itu, ada tiga hal yang perlu kita pahami agar ia mempercayai 
  ketulusan kita. Pertama, berikanlah perhatian yang hangat kepadanya. 
  Besarnya perhatian membuat dia merasa kita sayang dan kita cintai. Kedua 
  terimalah ia tanpa syarat. Penerimaan tanpa syarat menunjukkan bahwa kita 
  mencintainya dengan tulus. Tidak mungkin menerima dia apa adanya jika kita 
  tidak memiliki ketulusan cinta dan kebersihan niat. Ketiga, ungkapkanlah 
  dengan kata-kata yang tepat.

Berkaitan dengan ungkapan ini, ada sebuah tips yang ahsan yang disampaikan
   
  oleh ustaz yang kini masih mengajar di jurusan Psikologi, UII, Yogyakarta 
  ini. Yakni terminologi "aku" dan kamu". Saat kita mendapatkan
  bahwa masakan 
  yang dibuat pasangan kita keasinan misalnya, maka gunakanlah kata ganti 
  "aku" . "Aku lebih suka kalau sayurnya lebih manis, sayang"
  Tapi saat kita 
  mendapatkan suatu kelebihan pada diri pasangan, ia sukses menggoreng telor 
  dadar misalnya (biasanya ia menggoreng berkerak), maka kita gunakan kata 
  ganti "kamu". "Kamu memang pintar, istriku". Kita gunakan
  kata "aku" untuk 
  sesuatu yang sifatnya negatif dan "kamu" untuk sesuatu yang sifatnya
   
  positif. Untuk semua hal.

Tampaknya memang benar, karena penggunaan kata ganti "kamu" untuk
  sebuah 
  kesalahan yang telah dilakukan oleh pasangan kita cenderung menyaran pada 
  arti memvonis alih-alih memosisikan pasangan kita sebagai tertuduh.

Dalam perspektif pragmatik (linguistik), terminologi ini merupakan sebuah 
  upaya penggunaan maksim kesopanan dengan tetap mempertahankan maksim kerja 
  sama. Dengan tujuan agar tidak terjadi konflik pada keduanya.

Berangkat dari petunjuk Allah ini tidak layak bagi kita untuk sibuk 
  mempersoalkan kekurangan ataupun kesalahan, apalagi kekurangan yang sulit 
  dihilangkan, sepanjang ia tidak melakukan kekejian yang nyata. Betapa pun 
  banyak yang tidak kita sukai darinya, kemesraan dengannya tak akan pudar 
  jika kita mencoba untuk berbaik sangka kepada Allah, barangkali di balik 
  itu Allah berikan kebaikan yang sangat besar. Sebaliknya, sesedikit apa pun
   
  keburukannya, bila kita sibuk menyebut-nyebut dan mengingatnya, akan sangat
   
  memberatkan jiwa. Dampak selanjutnya tidak hanya bagi hubungan suami istri,
   
  tetapi merembet pada hubungan kita dan si kecil.

Terimalah ia apa adanya. Terimalah kekurangannya dengan keikhlasan hati 
  maka akan kita temukan cinta yang bersemi indah. Sesudahnya berupaya 
  memperbaiki dan bukan menuntut untuk sempurna. Bukankah kita sendiri 
  mempunyai kekurangan, mengapa kita sibuk menuntut istri untuk sempurna? Ada
   
  amanat yang harus kita emban ketika kita menikah. Ada ruang untuk saling 
  berbagi. Ada ruang untuk saling memperbaiki. Dan bukan saling mengeluhkan, 
  alih-alih menyebut-nyebut kekurangan.

Pahamilah kekhilafannya agar ia merasa ringan dalam memperbaiki, meski 
  bukan berarti kita lantas membiarkan kesalahan. Berikanlah dukungan dan 
  kehangatan kepadanya sehingga ia berbesar hati menghadapi 
  tantangan-tantangan yang ada di depan. Tunjukkanlah bahwa kita memang 
  sangat menghargainya, menerimanya dengan tulus, mau mengerti dan 
  bersemangat mendampinginya.

Dalam buku ini Ustaz Fauzil memang tidak hanya membahas seputar keikhlasan
   
  menerima pasangan kita apa adanya. Namun tampaknya beliau memandang masalah
   
  yang remeh temeh ini dalam beberapa hal telah menjadi batu karang yang 
  cukup terjal yang kemudian melahirkan benih-benih konflik dan 
  alih-alih perceraian.

Seperti pada bagian akhir, beliau menjelaskan bagaimana upaya belajar itu 
  tidak sebatas menerima apa adanya, tetapi juga diikuti dengan belajar 
  mendengar dengan sepenuh hati. Karena tidak jarang kita bukan tidak paham 
  jawaban yang sesungguhnya diinginkan di balik pertanyaan pasangan.

Cukup banyak hal sepele yang tampaknya kita anggap telah kita berikan 
  tetapi ternyata hal itu jauh meleset dari dugaan. Kita bukan mendengar 
  pasangan tetapi mendengar diri sendiri, kita bukan memberi solusi tapi 
  malah menambah materi. Kita bukan memberi jalan keluar alih-alih 
  menghakimi. Kita bukan memberikan jawaban, tetapi malah memberikan 
  pertanyaan. Kita bukan meringankan tetapi malah memberatkan. Benarkah?

Al akhir, kekayaan itu ada di jiwa. Dan keping kekayaan itu dimulai dari 
  ketulusan menerima. Dengan kekayaan jiwa kita akan lebih mudah memberikan 
  empati, lebih mudah untuk memahami, lebih mudah untuk berbagi dan lebih 
  mudah mendengar dengan sepenuh hati.

Hari ini, ketika kita bermimpi tentang sebuah pernikahan yang romantis 
  sementara ikatan batin di antara kita dan pasangan begitu rapuh, sudahkah 
  kita berterima kasih kepadanya? Sudahkah kita meminta maaf atas kesalahan 
  kesalahan kita? Jika belum, mulailah dengan meminta maaf atas 
  kesalahan-kesalahan kita dan ungkapkan sebuah panggilan sayang untuknya. 
  Mulailah dari yang paling mudah, hatta yang paling remeh atau kecil 
  sekalipun. Mulailah dari yang paling kecil, demikian Ustaz Aa’ berpesan. 
  Little things mean a lot, demikian Ustaz Fauzil menambahkan. Agar cinta 
  bersemi dalam keluarga kita, agar cinta senantiasa berbunga dalam kehidupan
   
  kita.

Masya Allah.
  Subhanallah.
  Alhamdulillahirabbil alamiin.
  Wallahu alam bisshawab.

(bagi yang belum menikah tidak usah khawatir, jika engkau
  jaga risalah Allah adalah sebuah keniscayaan jika Allah kan berikan yang terbaik
  buat antum, sekali lagi terbaik dalam perspektif Allah, dan bukan perpektif
  kita)

Macam - Macam Hati

October 7th, 2007 by cupidyunani

Hati merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Hati ini tidak akan terlepas dari tanggung jawab yang dilakukannya kelak di akhirat, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra: 36).

Dalam tubuh manusia kedudukan hati dengan anggota yang lainnya adalah ibarat seorang raja dengan seluruh bala tentara dan rakyatnya, yang semuanya tunduk di bawah kekuasaan dan perintahnya, dan bekerja sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

“Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

1. Hati yang sehat

Yaitu hati yang terbebas dari berbagai penyakit hati. Firman Allah: “(Yaitu) di hari yang harta dan anak-anak tidak akan bermanfaat kecuali siapa yang datang mengharap Allah dengan membawa hati yang selamat.” (Asy-Syura: 88-89).

Ayat ini sangatlah mengesankan, di sela-sela harta benda yang diburu dan dikejar-kejar orang, dan anak-anak laki-laki yang sukses dengan materinya dan sangat dibanggakan, ternyata itu semua tidak akan memberi manfaat kecuali siapa yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat.

Yaitu selamat dari semua nafsu syahwat yang bertentangan dengan perintah Allah dan laranganNya, dan dari semua syubhat yang memalingkan dari kebenaran, selamat dari peribadatan dan penghambaan diri kepada selain Allah, selamat dari berhukum dengan hukum yang tidak diajarkan oleh Allah dan RasulNya, dan mengikhlaskan seluruh peribadatannya hanya karena Allah, iradahnya, kecintaannya, tawakkalnya, taubatnya, ibadah dalam bentuk sembelihannya, takutnya, raja’nya, diikhlaskannya semua amal hanya kepada Allah.

Apabila ia mencintai maka cintanya karena Allah,
apabila ia membenci maka bencinya karena Allah,
apabila ia memberi maka memberinya karena Allah,
apabila menolak maka menolaknya karena Allah.
Dan tidak hanya cukup dengan ini, sampai ia berlepas diri dari semua bentuk keterikatan dan berhukum yang menyelisihi contoh dari Rasulullah. Maka hatinya sangat tertarik dengan ikatan yang kuat atas dasar mengikuti jejak langkah Rasulullah semata, dan tidak mendahulukan yang lainnya baik ucapan maupun perbuatannya.

Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya, bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1).

2. Hati yang mati

Yaitu kebalikan dari hati yang sehat, hati yang tidak mengenal dengan Rabbnya, tidak melakukan ibadah sesuai dengan apa yang perintahkanNya, dicintaiNya dan diridhaiNya. Bahkan selalu memperturutkan nafsu dan syahwatnya serta kenikmatan dan hingar bingarnya dunia, walaupun ia tahu bahwa itu amatlah dimurkai oleh Allah dan dibenciNya.

Ia tidak pernah peduli tatkala memuaskan diri dengan nafsu syahwatnya itu diridhaiNya atau dimurkaiNya, dan ia menghambakan diri dalam segala bentuk kepada selain Allah.

Apabila ia mencintai maka cintanya karena nafsunya, apabila ia membenci maka bencinya karena nafsunya, apabila ia memberi maka itu karena nafsunya, apabila ia menolak maka tolakannya atas dasar nafsunya, maka nafsunya sangat berperan dalam dirinya, dan lebih ia cintai daripada ridha Allah.

Orang yang demikian menjadikan hawa nafsu sebagai imamnya, syahwat sebagai komandannya, kebodohan menjadi sopirnya, dan kelalaian sebagai tunggangan dan kendaraannya. Pikirannya hanya untuk mendapatkan dunia yang menipu ini dan dibuat mabuk oleh nafsu untuk mendapatkannya,

ia tidak pernah meminta kepada Allah kecuali dari tempat yang jauh. Tidak membutuhkan nasihat-nasihat dan selalu mengikuti langkah-langkah syetan yang selalu merayu dan menggodanya.

Maka bergaul dengan orang seperti ini akan mencelakakan kita, berkawan dengannya akan meracuni kita, dan duduk dengannya akan membinasakan kita.

3. Hati Yang Sakit

Yaitu hati yang hidup tapi ada penyakitnya, hati orang yang taat terhadap perintah-perintah Allah tetapi kadangkala juga berbuat maksiat, dan kadang-kadang salah satu di antara keduanya saling berusaha untuk mengalahkannya.

Hati jenis ini, mencintai Allah, iman kepadaNya beribadah kepadaNya dengan ikhlas dan tawakkal kepadaNya, itu semua selalu dilakukannya tetapi ia juga mencintai nafsu syahwat dan kadang-kadang sangat berperan dalam hatinya serta berusaha untuk mendapatkannya.

Hasad, sombong (dalam beribadah kepada Allah), ujub, dan terombang-ambing antara dua keinginan yaitu keinginan terhadap kenikmatan kehidupan akhirat serta keinginan untuk mendapatkan gemerlapnya dunia.Maka hati yang pertama hidup, tumbuh, khusyu’ dan yang kedua layu kemudian mati. Adapun yang ketiga dalam keadaan tidak menentu, apakah akan hidup ataukah akan mati. Kemudian banyak sekali orang yang hatinya sakit dan sakitnya bahkan semakin parah, tetapi tidak merasa kalau hatinya sakit, bahkan sekalipun telah mati hatinya tetapi tidak tahu kalau hatinya telah mati.