Sebuah Keniscayaan
Bicara tentang kekasih, identik dengan berbicara tentang cinta. Sesuatu yang dicintai dan dikasihi, dimakhlumi sebagai kekasih. Nabiyullah Ibrahim mendapat julukan Kholilullah (Kekasih
Allah), artinya beliau mendapatkan cinta dan kasih sayang-Nya. Cinta
yang hakiki-murni-sejati adalah cinta pada Dia, Dzat Maha Suci yang
secara realitas telah memberi segala yang kita rasakan sekarang. Cinta
hakiki adalah cinta pada dzat yang mencintai kita.
Betapa tidak, hanya dialah yang memberikan segalanya
pada kita. Tengok saja segala yang kita miliki, semuanya berasal dari
Allah SWT. Semua yang kita gunakan adalah milik-Nya, lalu atas dasar
kasih-Nya Dia mengijinkan kita untuk menggunakan semua itu. Hakekatnya,
badan, tanah, rumah, kendaraan, kekayaan, jabatan dan segala hal yang
kita gunakan bukanlah milik hakiki kita. Itu adalah milik Allah SWT
yang atas cinta-Nya dibolehkan untuk kita gunakan sehingga menjadi
�milik’ kita didunia. Bukti konkret bahwa semua itu bukan milik hakiki
kita, hanya �milik’ sementara saja, adalah ketika siapapun meninggal
maka semua itu tidak dibawanya. Badan hancur lebur dimakan bakteri;
tanah, rumah, kendaraan, dan kekayaan tidak ikut dikubur, semuanya
diwariskan. Jabatan juga hanya tinggal sebutan. Satu-satunya jabatan
yang melekat adalah : MAYAT
Semua yang kita punya berasal dari Allah SWT. Saya
percaya, anda pernah berpikir mengapa anda dapat membaca buku ini ?
sebab, anda punya energi yang diolah dari makanan beserta indera yang
dimiliki. Padahal, proses terbentuknya energi dari makanan itu melalui
suatu proses metabolisme yang canggih. Siapakah yang menjadikan proses
metabolisme sejak lahir dalam diri kita ? kitakah? Bukan! Allah SWT.
Dengan penuh cinta memberikannya kepada kita sejak bayi. Tanpa
metabolisme, kita tak berdaya apa-apa. Organ tubuh kita dengan
fungsinya masing-masing, kitakah yang membuatnya? Tentu, bukan! Allah
SWT. Menciptakannya untuk kita gunakan. Kita makan nasi, siapakah yang
membuat padinya? Petani ? kita, tentu, akan mengatakan : �bukan, petani
hanyalah menanam�. Allah SWT. Memang sengaja menciptakan padi untuk
kita makan. Dia telah berjanji memberi rizki pada setiap makhluknya.
Pakaian yang kita kenakan berasal dari benang, dan benang berasal dari
kapas, siapakah yang menjadikan pohon kapas? Bukan siapapun melainkan
Allah SWT. Setiap apapun yang kita gunakan, terang sekali ciptakan
Allah SWT. Tak ada sesuatu apapun yang kita miliki dan gunakan kecuali
berasal dari Allah Dzat Maha Sayang. Kita tak punya daya dan upaya
tanpa Allah SWT, la hawla wa la quwwata illa billah . Semua itu merupakan wujud sifat kasih sayang Allah SWT ( Ar rahman ) yang dia berikan kepada kita.
Realitas menunujukkan tidak ada siapapun yang
mencintai kita memberi segala yang kita punyai dan kita butuhkan selain
Allah Pencipta kita. Kecintaan Allah SWT. Nampak begitu nyata. Bila
demikian, maka sangat rasional bila saya, anda, dan siapapun ingin
menjadi kekasih-Nya. Ingin menumpahkan cinta kita kepada-Nya. Kehendak
menjadi kekasih Allah SWT. Dan mencurahkan kecintaan kepada-Nya sungguh
merupakan keniscayaan bagi mereka yang menyadari sebagai hamba Allah
Dzat Maha Pemberi.
Wujud Nyata
Wujud cinta tersebut umumnya teraplikasi setidaknya dalam tiga bentuk. Pertama, lebih mementingkan perintah kekasihnya dari pada perintah yang lain; kedua, lebih mementingkan pertemuan dengan kekasihnya dibanding dengan yang lain; dan ketiga, lebih
mementingkan mendapat keridhoan kekasihnya dari pada mendapatkan
keridhoan yang lainnya. Karenanya, untuk mengecek apakah kita sudah
menjadikan Allah SWT sebagai kekasih sejati atau belum mestinya kita
mengecek sudahkah kita selalu taat pada perintah-Nya ? sudahkah selalu
ingin bertemu dengan-Nya dalam peribadatan? Sudahkah mengharapkan
keridhoan hanya dari-Nya? Kepada hukum Allah ataukah hukum thaghut? Jika
jawabannya belum, maka tidak salah bila saat ini nurani anda bergumam:
�hipokrit engkau wahai jiwaku!� sekalipun demikian, sampai sekarangpun
belum terlambat untuk menjadikan-Nya al-Mahbub (yang dicintai). Yakinlah, kita dapat menjadi kekasih-Nya hingga nama kita senantiasa disebut-sebut di kalangan para malaikat.
Satu hal yang penting dicatat, tidak mungkin Allah
SWT menyayangi dan mengasihi kita dalam keridhoan-Nya bila kita sendiri
tidak mencintai-Nya. Inilah kiat pertama yang mutlak dilakukan:�
Jadikanlah Allah sebagai kekasih kita, niscaya kita akan menjadi
kekasih-Nya�. Katakanlah:�Jika kalian (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa
kalian.� Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang . Begitu firman Allah SWT dalam surat Ali �Imron [3] ayat 31.
Seorang muslim, apalagi pengemban dakwah, sudah
sepatutnyalah menjadikan cinta tertingginya untuk Allah SWT. Karena dia
adalah penyebar ajaran-ajaran-Nya. Dengan demikian ia akan menjadi uswah dan qudwah bagi
masyarakat obyek dakwahnya. Sulit dibayangkan seseorang mengajak orang
lain untuk mencintai Allah SWT bila dia yang mengajaknya tidak
menjadikan Allah SWT sebagai kekasihnya. Jadi, keimanan dan tanggung
jawab ini akan mendorong setiap mukmin pengemban dakwah terus berusaha
untuk mencintai sekaligus dicintai oleh Allah. Demikian pula muslim
pada umumnya.
Langkah Menjadi Kekasih-Nya
Siapapun yang men- tadabburi kalamullah, akan menemukan beberapa sifat yang harus dimiliki agar menjadi hamba yang dicintai Khaliq- nya. Beberapa karakteristik tersebut diantaranya :
1. Beriman
Adanya iman pada seseorang, merupakan syarat mutlak
bagi hamba yang berhasrat dicintai Allah. Tanpa ini, jangan harap ada
cinta dari-Nya. pada ayat 18 al-Fath, yang memberikan gambaran baiatur Ridwan, Allah
menjelaskan hal tersebut. Seorang mukmin, terlebih-lebih para pengemban
dakwah betul-betul memiliki keimanan yang mantap disertai dengan
pembuktiannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia senantiasa bergetar
hatinya apabila disebut nama Allah (artinya disebut ayat-ayat Allah)
sebagai lambang kerinduan kepada-Nya, bahkan iapun berusaha selalu
memahami ayat-ayat Allah dengan mendalam sehingga keimanannya makin
bertambah setiap dibacakan ayat-ayat-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT
:
� Sesungguhnya orang-orang yang beriman (orang
yang sempurna imannya) itu adalah mereka yang apabila disebut nama
Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada
Tuhan-lah mereka bertawakkal.� ( Qs. Al-Anfaal [8]:2 )
penampakan keimanan yang lainnya, ia senantiasa khusyu’ dalam sholatnya. Sebagaimana firman Allah SWT:
� (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.� ( Qs. Al-Mukminuun[23] : 2 )
saat melakukan sholat, pikirannya tertuju pada makna
bacaan, lidahnya membaca dan hatinya menghayati apa yang dibacanya itu.
Ia dapat khusyu’ seperti ini karena betul-betul meyakini akan
pertemuannya dengan Allah dan ia pun yakin bahwa ia pasti akan kembali
dan bertemu dengan-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT :
� (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.� ( Qs. Al-Baqarah [2] : 46 )
Keimanan yang seperti ini akan juga membuahkan
amal-amal yang menjauhkan diri dari perkataan yang tidak berguna.
Sebagaimana firman Allah SWT:
� Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.� ( Qs. Al-Mukminuun[23]:3 )
Demikian pula ia mengeluarkan zakat, menjaga arji- nya
dari berzina, selalu memegang teguh dan menyampaikan amanat, menepati
janji, dan selalu menjaga sholatnya agar tidak terbengkalai.
Sebagaimana firman Allah SWT :
�Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan
orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri
mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam
hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang dibalik itu maka
mereka itulah orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang
dipikulnya) dan janjinya. Dan sembahyangnya.�( Qs. Al-Mukminun [23]:4-9 )
Dalam kitab Nashooihul �Ibad, Ibnu Hajar al-Atsqolani mengutip sebuah hadist Rasulullah SAW yang berkaitan dengan tanda-tanda keimanan :
�Suatu hari Rasulullah berjumpa dengan beberapa
sahabat, beliau bertanya: �Apa kabar kalian pagi ini?’ mereka menjawab:
�kami tetap beriman kepada Allah.’ Apa tanda iman kalian?’ tanyanya,
mereka pun menjawab: �kami tabah menghadapi cobaan, bersyukur atas
kehidupan yang enak dan kami ridho kepada ketentuan Allah SWT.’
Mendengar jawaban itu beliau bersabda: �Demi Rabb penguasa ka’bah,
kalian benar-benar beriman.�
2. Bertaqwa
Allah SWT berfirman :
� (Bukan demikian) sebenarnya siapa yang
menepati janji (yang dibuatnya) dan bertaqwa maka sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertaqwa.� ( Qs. Ali Imron [3] :76 )
�Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi
Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrik, kecuali orang-orang
yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil
Haram (perjanjian Hudaibiyah) ? maka selama mereka berlaku lurus
terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.� ( Qs. At-Taubah [9]:7 )
Para ulama mendefinisikan taqwa sebagai melaksanakan
seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian,
seorang pengemban dakwah akan senantiasa memaksa dan memacu dirinya
untuk terikat dengan seluruh aturan Allah SWT (syariat Islam) dalam
setiap keadaan apapun. Sebagaimana sabda Rasul SAW:
�Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada.� ( HR. Tirmidzi )
taqwa tidak melekat begitu saja pada seseorang. Ia
lebih merupakan suatu hasil kerja terus menerus dengan amal Islami.
Karenanya, taqwa perlu dibina, disuburkan dan diistiqamahkan. Kehidupan
duniawi laksana seseorang yang mengendarai kuda. Bila lalai mengatur
kendalinya, tak tahu kuda lari kemana dan kita bernasib bagaimana. Yang
jelas kita akan tersesat dalam kondisi sesesat-sesatnya. Dalam hidup di
dunia, taqwa itulah kendalinya.
Sayidina Utsman bin Affan ra pernah mengungkap lima hal penting sebagai wujud taqwa pada seseorang yaitu : suka
bergaul dengan orang yang baik dalam agamanya serta dapat mengekang
nafsu syahwat dan lisannya; bila ditimpah musibah keduniaan yang besar
dia menganggapnya sebagai ujian; bila ditimpah urusan kecil mengenai
keagamaan dia merasa untung karenanya; tidak menjejali perutnya
walaupun dengan makanan yang halal karena takut tercampur dengan barang
haram; dan pada pandangannya orang lain sudah berhasil membersihkan
dirinya sedangkan dirinya merasa masih kotor.�
3. Berbuat Ihsan
Al Fadhil Ibn �Iyadh berkata : �Sesungguhnya
sesuatu perbuatan apabila benar tetapi tidak ikhlas maka amal itu tidak
diterima. Demikian pula apabila dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak
benar (showab) maka amal itupun tidak diterima, jadi harus ikhlas dan
benar. Ikhlas artinya hanya karena Allah, dan benar artinya sesuai
dengan sunnah Rasul Allah SAW.
Dengan demikian dengan dua syarat tadi mudahlah mengukur amal kita, termasuk amal yang ihsan (baik) atau tidak
Berkaitan dengan seruan berbuat baik, Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya :
�Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan
Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah SWT menyukai
orang-orang yang berbuat baik.� ( Qs. Al-Baqarah [2]: 195 )
�Menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.� ( Qs. Ali Imron [3] : 134 )
Selain itu, disaat melakukan suatu perbuatan
tujuannya harus betul-betul dalam rangka beribadah kepada Allah SWT;
dengan seakan-akan kita melihat-Nya dan apabila kita tidak dapat
melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihat kita. Inilah definisi ihsan dalam
beribadah menurut Rasul SAW yang tercantum dalam sebuah hadist riwayat
Imam Muslim. Apabila kita sudah bersikap seperti ini (ihsan) niscaya
dalam setiap melakukan perbuatan akan selalu ikhlas dan benar.
Banyak sekali amal kebaikan yang dapat dilakukan,
baik yang berhubungan dengan Allah seperti sholat, membaca Al qur’an,
shaum, berhubungan dengan diri sendiri seperti berakhlakul karimah,
berpakaian rapi, menjaga diri dari makanan haram, ataupun berhubungan
dengan sesama manusia dalam bermuamalah dan uqubat.
Jangan sekali-kali menganggap remeh suatu amal
kebaikan. Sekecil apapun lakukanlah perbuatan baik tersebut,
tinggalkanlah perbuatan dosa. Ingat pula, jangan menunda-nunda amal !
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata: � jika engkau
di waktu sore janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu
pagi janganlah engkau menunggu sore. Pergunakanlah sehatmu untuk
beramal sebelum sakit, dan pergunakanlah hidupmu sebelum mati.�
Sementar itu, Khalifah Ali Karamaallahu Wajhah berpesan ; � jadilah
kamu sebaik-baik manusia disisi Allah dan anggaplah kamu sejelek-jelek
manusia menurut dirimu sendiri dan jadilah kamu orang yang berguna di
Masyarakat.�
4. Selalu Sabar
Seperti halnya dalam kehidupan yang lain, dalam
medan da’wah pun tidak luput dari tantangan, ancaman, hambatan, dan
gangguan. Semua itu pada hakekatnya merupakan ujian. Maka sabar
merupakan pakaian para pengemban dakwah dimanapun berada dan kondisi
apapun yang tengah dihadapinya. Sabar tidaklah harus berarti berdiam
diri melainkan harus berusaha juga sekuat tenaga untuk menghadapinya.
Mereka yang tidak sabar termasuk orang yang merugi, ia akan cepat
frustasi, marah-marah, stress, bahkan bisa jadi menyalahkan Allah SWT. Naudzu billahi min dzalik. Sabar bukanlah paket yang disediakan secara Inheren dalam
penciptaan manusia. Sabar hanya akan ada pada mereka yang
mengupayakannya. Anda dapat sabar ataukah tidak, terserah pilihan anda.
Begitu pula saya atau dia. Bagi kita yang hendak menanam kesabaran diri
ada beberapa pengalaman yang dapat dijadikan cermin untuk meraihnya
upaya tersebut antara lain :
Pertama, pahamilah bahwa hidup ini adalah
ujian. Sesungguhnya Allah SWT menciptakan hidup dan mati itu merupakan
ujian bagi seluruh hamba-Nya (Al-Muluk:2). Berbagai bentuk ujian akan
senantiasa mengiringi kehidupan seorang muslim. Apakah itu berupa
ketakutan, rasa lapar, dan kekurangan harta (Al-Baqarah:155) namun ada
juga berupa perkara yang baik-baik (Al-Anfal:17). Ujian akan berakhir
dengan tibanya ajal. Siapa yang siap hidup harus siap menghadapi ujian.
Kedua, sadarilah bahwa seluruh ujian yang
ada, sekaligus sebagai pengecek kekuatan iman seseorang (Al-Ankabut:2).
Semakin kuat keimanan seseorang maka semakin banyak dan berat juga
ujian hidup yang akan dialaminya. Justru, bagi seorang muslim yang
mengaku beriman tetapi belum pernah diuji, mestinya bertanya pada
dirinya sudah sejauh manakah kadar keimanannya. Ada seorang teman
pernah ketakutan, �saya mah justru tidak akan tebal iman dan banyak
taat, sebab nanti akan banyak ujian. Saya takut tidak tahan, saya tidak
akan sabar menghadapi ujian, apalagi makin tinggi iman maka ujian pun
semakin sulit,� ungkapnya kepada saya. Saat itu saya tidak banyak
memberikan komentar. Saya hanya bercerita kepadanya. Dulu, ada orang
yang mengatakan kepada saya saat masih SD bahwa ujian di SMP itu sulit.
Kesulitannya jauh dibandingkan dengan ujian SD, demikian pula ujian
SMU. Wah, sulit sekali, tambahnya, kesulitannya tidak bisa dibayangkan
oleh tingkatan SD. Apalagi di Perguruan tinggi. �Wah, apalagi pada
waktu sidang skripsi. Susah bukan main. Mana dosennya sering kali sulit
ditemui, lagi�. Dan, kelak bila melanjutkan S2 lebih sulit Lagi.
Bagaimana sikap anda terhadap cerita ini ? saya percaya, kita tidak
akan menyimpulkan:�Wah, dari pada mendapat ujian sulit lebih baik
sekolah cukup sampai SD saja. Tidak perlu SMP, apalagi SMU atau
sarjana.� Benar, makin tinggi tngkat pendidikan, makin sukar ujian.
Tapi, buktinya, toh tetap juga dapat dilalui dengan baik. Persoalan
ujian yang berkolerasi erat dengan keimanan pun demikian. Semakin
tinggi keimanan seseorang, akan semakin deras ujiannya, dan yakinlah,
dia akan semakin memiliki kemampuan dan kesabaran untuk mengunggulinya
seiring dengan meningginya keimanan dan ketaatan.
Ketiga, sabar itu merupakan salah satu
tanda keberhasilan (Al-Imron:200). Betapa banyak kaum terdahulu yang
terbinasa karena ketidak sabarannya. Orang yang tidak sabar akan suatu
perkara sebenarnya telah kehilangan kesempatan untuk mengungguli
perkara tersebut.
Keempat, sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang sabar (Al-Imron:146)
Memang kesabaran bukanlah perkara yang mudah. Sebab,
kesabaran memerlukan ketulusan dan kesungguhan tingkat tinggi. Agar
berhasil memilikinya, biasakanlah dan perbanyaklah do’a: artinya � Ya Rabb kami, curahkanlah kesabaran kepada kami, dan matikanlah kami dalam keadaan muslim.� ( Qs. AL-A’raf:222 )
5. Tawakkal
Satu ciri lain orang yang dicintai Allah SWT adalah
orang yang tawakkal. Kaum mukminin di perintahkan untuk menyerahkan
segala urusannya (tawakkal) hanya kepada Allah SWT (Ali-Imron:122;
Al-Maidah:11). Sebelum melakukan segala sesuatu, kita harus menyerahkan
segala macam urusan kita kepada Allah SWT. Jadi bukan berusaha lalu
bertawakkal kepada Allah SWT dalam setiap urusan jauh-jauh sebelumnya
baru berusaha menghadapi sekuat tenaga
6. Mencintai Allah SWT
Agar kita dicintai Allah SWT, kita harus
mencintai-Nya. Wujud cinta kepada Allah adalah cinta kepada sesama
muslim dan keras kepada orang kafir (bukan sebaliknya), siap berjihad,
dan tidak takut terhadap selaan orang yang mencela. Demikian disebutkan
dalam surat Al-Maidah ayat 54. mencintai Allah SWT dilakukan dengan
cara mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW dalam segala peri
kehidupannya (Ali-Imron:31). Lembut terhadap sesama muslim dilakukan
dengan cara mencintai mereka sebagaimana mencintai diri kita sendiri,
tidak menyakitinya, tidak mendzaliminya, tidak mengganggu hartanya dan
memelihara kehormatannya, sedangkan keras terhadap orang kafir,
terutama dalam hal-hal yang menyangkut hukum islam. Tidak ada toleransi
dalam beragama, yang ada kerukunan antar umat umat beragama dibawah
nauangan kehidupan Islam, dimana Islamlah yang berkuasa dibumi ini.
Adapun jihad merupakan perang untuk meninggikan kalimat Allah SWT.
Seorang pengemban dakwah harus merelakan dirinya untuk mati fi sabilillah karena
diri orang mukmin telah dibeli oleh Allah SWT (At-Taubah:111). Demikian
pula sang istri harus ridho melepas suami dan anak-anaknya kemedan
pertempuran demi tegaknya dinul Islam saat kaum imperalis menggunakan
senjata untuk memporakporandakan Islam, umat dan negeri-negerinya.
Selain itu, Pengemban da’wah harus tahan terhadap celaan yang
dilontarkan kepadanya karena celaan itu sebenarnya muncul dari
orang-orang yang tidak suka kepada Islam
7. Bertaubat, membersihkan diri dan jiwa
Taubat harus menjadikan kebiasaan sehari-hari
(At-Taubah:112) suatu kebahagiaan bila kita terbiasa taubat seperti
terbiasanya sarapan. Taubat pun bukan hanya sesaat melainkan harus
dilakukan dengan benar-benar sehingga menjadi taubatan nasuha (At-Tahrim:8). Setidaknya, agar terwujud taubatan nasuha, seorang
Muslim harus menyesali perbuatan dosanya, memohon ampunan kepada Allah
SWT dan berniat sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya. Hujjatul
Islam, Imam Al-Ghazali, dalam Minhajul �Abidin menjelaskan bahwa pembersihan dosa seseorang, tergantung kepada jenis dosa tersebut. Pertama, bila
kesalahan tersebut karena kelalaian atas kewajiban dari Allah SWT, maka
ia harus beristighfar dan berusaha mengqada segala kelalaiannya itu. Kedua, bila
dosa itu terhadap sesama manusia, maka ia harus berusaha sekuat tenaga
untuk meminta kemanfaatan dan keridhaan orang tersebut. Ketiga, bila
dosa tersebut karena kedzaliman diri sendiri (tidak berhubungan dengan
orang lain) maka ia harus memperbanyak amal shalih agar kelak, amalan
buruknya akan terkalahkan banyaknya oleh amal shalehnya.
Rasulullah yang ma’sum, tidak kurang dari
tujuh puluh kali sehari bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Bagaimana dengan kita yang penuh dosa dan tidak dilindungi dari
kesalahan ?
Renungan
Itulah beberapa hal yang dapat membimbing kita untuk
menjadi kekasih Allah SWT. Siapapun yang telah mencurahkan cintanya
kepada Allah SWT dan berhasil menjadi kekasih-Nya, niscaya hasilnya
akan kembali kepada dirinya sendiri. Ini adalah janji Allah SWT yang
disampaikan oleh Nabi SAW.
Suatu waktu Rasulullah SAW bersabda bahwasannya Allah Ta’ala berfirman :� Barangsiapa
yang memusuhi kekasih-Ku maka aku menyatakan perang kepadanya. Sesuatu
yang paling kusukai dari apa yang dikerjakan oleh hamba-Ku untuk
mendekatkan diri kepada-Ku adalah bila ia mengerjakan oleh apa yang
telah Kuwajibkan kepadanya. Seseorang itu akan senantiasa mendekatkan
diri kepada-Ku dengan mengerjakan kesunatan-kesunatan sehingga Aku
mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku merupakan pendengaran
yang ia pergunakan untuk mendengarnya, Aku merupakan penglihatan yang
ia pergunakan untuk melihatnya, Aku merupakan tangan yang ia pergunakan
untuk menyerangnya, dan Aku merupakan kaki yang ia pergunakan `untuk
berjalan. Seandainya ia bermohon kepada-Ku pasti Aku akan
mengabulkannya dan seandainya ia berlindung diri kepada-ku paasti aku
akan melindunginya.� ( HR.Bkuhari )
Semoga kita diberi kemudahan untuk menjadi kekasih Allah Pencipta Alam